Silahkan cek video kami, jangan lupa like dan share
https://youtu.be/Bndmx0J5x0U
Kamis, 15 Juni 2017
Selasa, 02 Mei 2017
Analisis Produk Helm I
ANALISIS PRODUK HELM I
Individu:
Nama:
Muhammad Jaka Firdaus - 17214380
ANALISIS PRODUK HELM I
A. SEJARAH & PRODUK HELM I
Helm
adalah alat yang digunakan untuk melindungi kepala. Helm sangat penting bagi
keselamatan pengguna roda dua, oleh karena itu PT. X berusaha memproduksi helm
dengan kualitas produk dan proses yang mengedepankan keamanan dan didukung oleh
kualitas bahan dasar terbaik yang telah melalui uji standar yang ketat sesuai
dengan standar nasional dan internasional yang berlaku.
Brand I Helmet pertama kali diluncurkan pada
tahun 1996. Positioning helm I Helmet ditujukan untuk kalangan bikers dan
hobbies, sampai pada kalangan professional untuk motocross dan touring. Dari
segi produk I Helmet diarahkan untuk para pemakai motocross, Hi End Open Face,
Medium to High End Modular (flip up) system dan juga Medium High End Full face.
I Helmet dilengkapi dengan removable comfort padding dan juga size fitting dari
berbagai ukuran terkecil S hingga ukuran yang terbesar XXL. Tahun 2010 INK
Helmet berkomitment akan menjadi sponsor resmi Super cross and Motocross
National final: Denny Orlando, Farhan Hendro, dan Irwan Ardiansyah
B. PEMASARAN PRODUK
1. Price
Helm I menjadi suatu
perlengkapan dan kebutuhan dalam menggunakan kendaraan bermotor, tingkat
kebutuhan akan helm I cukup tinggi.
Dengan keadaan seperti ini konsumen tidak langsung meningkatkan harga
setinggi-tingginya, harga helm I sendiri bervariasi mulai dari harga Rp
1.050.000,- sampai dengan Rp 245.000,-. Dengan harga yang bervariasi seperti
ini maka semua orang bisa membelinya baik dia itu dari golongan atas maupun
bawah yang mereka benar-benar menginginkan keselamatan saat berkendara motor di
jalan.
Memang harga helm I ini tidak
semahal helm-helm lain yang harganya sampai jutaan rupiah seperti helm AGV,
Arai, Nolan yang harganya sangat mahal contoh pada helm AGV yang bertipe GP
Tech Rossi Five Continents hargaya Rp 7.000.000,- yang mampu membelinya hanya
kalangan atas dan penikmat otomotif motor yang menginginkan tampil keren.
2. Promotion
Aspek penting lainnya adalah
mengenai promosi dari produk. Bagaimana suatu produk akan dikenalkan ke pasar
agar pelanggan tergerak untuk membelinya. Salah satu cara berpromosi efektif
adalah dengan beriklan. Untuk mendapatkan efektifitas beriklan sebaiknya
dilakukan pemilihan media iklan yang benar-benar cocok dengan karakter target
pasar dari produk. Pada helm I ini sudah banyak sekali promosi-promosi yang
dapat kita lihat secara langsung. Misalnya pada iklan televise yang sudah
menyiarkan keunggulan helm I dari pada helm yang lainnya. Apa lagi di media
internet, kita bisa secara langsung melihat produk helm ini apa saja
keunggulannya.
3. Placement
Tidak kalah penting adalah
mengenai dimana produk tersebut yang akan ditawarkan tersebut mudah ditemukan
oleh target pasar yang dituju. Tempat penjualan Helm I adalah tempat yang dekat
jalan raya ataupun pusat kota yang sering di lalui oleh kendaraan karena dengan
tempat yang begitu sangatlah setrategis. Mislanya seperti di “widodo motor
sport” yang berpusat di Jl. Sunan Kudus 235 B Kudus. Toko penjualan helm INK di
toko ini cukup pesat karena jalan yang setrategis dan juga meenyedakan suku
cadang motor yang cukup lengkap.
C. DISTRIBUSI PRODUK
PT. X memiliki jalur
distribusi tersendiri untuk memasarkan produknya. Produk Tarakusuma Indah, akan
didistribusikan secara langsung ke gerai modern seperti , Carrefour , dan Giant
. hal ini akan membuat keaslian helm tetap terjamin.
D. MANAJEMEN SUMBER DAYA
MANUSIA
PT. X mempunyai 750 orang
karyawan dengan total kapasitas produksi helm yang mencapai lebih dari 2 juta
unit per tahun, dengan berbagai pilihan model, warna dan corak/grafis yang
inovatif. Untuk menjaga proses produksi dan kemudahan kerja bagi para karyawan
kami, tersedia beberapa fasilitas seperti armada bis untuk mengantar dan
membawa para pegawai sampai tepat di depan pabrik kami.
Kesimpulan:
Dari proses produksi, pemasaran, distribusi serta sumber daya manusia yang
diungkapkan oleh perusahaan dalam laporan tahunannya , dapat disimpulkan bahwa
perusahaan tidak melakukan Immoral maupun Ammoral dalam etika bisnisnya.
Perusahaan juga tidak terlibat sengketa apapun yang diperkarakan, dan tidak
juga meelakukan tindakan yang merugikan pihak internal (tenaga kerja) dan
eksternal (konsumen).
Budaya Organisasi di Perusahaan
BUDAYA ORGANISASI DI PERUSAHAAN
Kelompok 5
Nama Kelompok:
1. Desi Arina P (12214742)
2. Devita Euodia (12214852)
3. Mufidah Zahra (16214872)
4. M Jaka Firdaus (17214380)
5. M Aulia Pratama (16214906)
6. Nurul Khotimah (18214280)
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Seiring dengan bergulirnya waktu yang
menuntut banyak perubahan, banyak organisasi saat ini merasa perlu untuk
mengubah budaya perusahaan guna menjamin kelangsungan hidupnya atau untuk
memperoleh keuntungan yang lebih kompetitif. Hal ini sering didorong oleh
kenyataan bahwa budaya yang telah ada kadang tidak lagi mampu memperbaiki
keadaan masa datang seperti yang dibutuhkan organisasi. Kekuatan-kekuatan dalam
lingkungan eksternal organisasi dapat mengisyaratkan kebutuhan perubahan
budaya, misalnya dengan adanya persaingan yang makin tajam dalam suatu
lingkungan industri menuntut perubahan budaya organisasi untuk senantiasa mampu
merespon keinginan konsumen dengan lebih cepat.
Suatu organisasi dibentuk untuk mencapai
suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya, karena pada dasarnya
organisasi merupakan bentuk perserikatan dari manusia untuk mencapai tujuan
bersama dimana di dalamnya terdapat aktifitas, oleh karena itu organisasi perlu
memiliki karyawan yang berkualitas serta mempunyai semangat dan loyalitas yang
tinggi. Semangat dan loyalitas yang tinggi dipengaruhi oleh kemampuan
pegawainya serta budaya organisasi yang ada, untuk itu perlu adanya peningkatan
kemampuan pegawai dan pembentukan budaya organisasi yang baik sesuai dengan
kebutuhan karyawan.
Tenaga kerja atau sumber daya manusia
merupakan faktor yang mutlak diperlukan dalam suatu organisasi, baik pada
instansi pemerintah, perusahaan-perusahaan atau usaha-usaha sosial untuk
mendapatkan suatu balas jasa/imbalan tertentu. Tenaga Kerja dapat diartikan
sebagai buruh, karyawan, pekerja, pegawai, pada hakekatnya mempunyai maksud
yang sama. Manajemen sumber daya manusia merupakan sarana untuk meningkatkan
kualitas manusia, dengan memperbaiki sumber daya manusia, meningkatkan pula
kinerja dan daya hasil organisasi, sehingga dapat mewujudkan karyawan yang
memiliki disiplin dan kinerja yang tinggi diperlukan pula peran yang besar dari
pimpinan organisasi. Dalam meningkatkan kinerja karyawan diperlukan analisis
terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan memperhatikan kebutuhan dari
para karyawan, diantaranya adalah terbentuknya budaya organisasi yang baik dan
terkoordinasi.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai
berikut:
- Apakah pengertian dari
budaya organisasi?
- Apa saja teori-teori
mengenai budaya organisasi?
- Apakah dimensi-dimensi
budaya organisasi?
- Apa
manfaat dan peranan budaya organisasi di perusahaan?
- Bagaimana cara karyawan
mempelajari budaya organisasi?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Budaya Organisasi
Robbins (1996) memberi pengertian budaya organisasi antara lain sebagai:
- Nilai-nilai dominan yang
didukung oleh organisasi.
- Falsafah yang menuntun
kebijaksanaan organisasi terhadap pegawai dan pelanggan.
- Cara pekerjaan dilakukan di tempat
itu.
- Asumsi dan kepercayaan dasar
yang terdapat di antara anggota organisasi.
Dari sudut pandang karyawan, budaya memberi pedoman bagi karyawan akan
segala sesuatu yang penting untuk dilakukan. Sejumlah peran penting
yang dimainkan oleh budaya perusahaan adalah:
1. Membantu pengembangan rasa memiliki jati diri bagi karyawan.
2. Dipakai untuk mengembangkan keterkaitan pribadi dengan organisasi.
3. Membantu stabilitas organisasi sebagai suatu sistem sosial.
4. Menyajikan pedoman perilaku sebagai hasil dari norma perilaku yang
sudah dibentuk.
Budaya organisasi
yang terbentuk, dikembangkan, diperkuat atau bahkan diubah, memerlukan
praktik yang dapat membantu menyatukan nilai budaya anggota dengan nilai
budaya organisasi. Praktik tersebut dapat dilakukan melalui induksi atau
sosialisasi, yaitu melalui transformasi budaya organisasi.
Sosialisasi organisasi merupakan serangkaian aktivitas yang secara
substantif berdampak kepada penyesuaian aktivitas individual dan
keberhasilan organisasi, antara lain komitmen, kepuasan dan kinerja.
Beberapa langkah sosialisasi yang dapat membantu dan mempertahankan budaya
organisasi adalah melalui seleksi calon karyawan, penempatan, pendalaman
bidang pekerjaan, penialian kinerja, dan pemberian penghargaan, penanaman
kesetiaan pada nilai-nilai luhur, perluasan cerita dan berita, pengakuan
kinerja dan promosi. Berbagai praktik di atas dapat memperkuat budaya
organisasi dan memastikan karyawan yang bekerja sesuai dengan budaya
organisasi memberikan imbalan sesuai dukungan yang dilakukan. Sosialisasi yang
efektif akan menghasilkan kepuasan kerja, komitmen organisasi, rasa
percaya diri pada pekerjaan, mengurangi tekanan serta kemungkinan keluar
dari pekerjaan. Beberapa hal yang dapat dilakukan organisasi untuk
mempertahankan organisasi adalah menyusun asumsi dasar, menyatakan dan
memperkuat nilai yangdiinginkan dan menyosialisasikan melaui contoh.
B. Teori
Budaya Organisasi
Terdapat tiga asumsi yang
mengarahkan pada teori budaya organisasiyaitu:
1. Angota-anggota organisasi
menciptakan dan mempertahankan perasaan yang dimiliki bersama mengenai realitas
organisasi, yang berakibat pada pemahaman yang lebih baik mengenai
nilai-nilai sebuah organisasi.
Asumsi
yang pertama berhubunan dengan pentingya orang di dalam kehidupan
organisasi. Secara khusus, individu saling berbagi dalam menciptakan dan
mempertahankan realitas.Individu-individu ini mencakup
karyawan, supervisor, dan atasan. Pada inti dari asumsi ini adalah yang
dimiliki oleh organisasi. Nilai adalah standar dan prinsip-prinsip dalam
sebuah buadanya yangmemiliki nilai intrinsik dari sebuah budaya. Nilai
menunjukkan kepada anggota organisasi mengenai apa yang penting. Orang
berbagi dalam proses menemukan nilai-nilai perusahaan. Menjadi anggota
dari sebuah organisasi membutuhkan partisipasi aktif dalam organisasi
tersebut. Makna dari simbol-simbol tertentumisalnya, mengapa sebuah perusahaan
terus melaksanakan wawancara terhadap calon karyawan ketika terdapat
sebuah rencana pemutusan hubungan kerja besar- besarandikomunikasikan baik
oleh karyawan maupun oleh pihak manajemen. Makna simbolik dari menerima
karyawan baru ketika yang lainnya dipecat tidak akan dilewatkan oleh
pekerja yang cerdik; mengapa memberikan uang pada karyawan baru ketika
yang lama kehilangan pekerjan mereka? Karyawan memberikan kontribusi dalam
pembentukan budaya organisasi. Perilaku merekasangatlah penting dalam
menciptakan dan pada akhirnya mempertahankan realitas organisasi.
2. Penggunaan dan intepretasi
simbol sangat penting dalam budaya orgaisasi.
Realitas organisasi juga sebagiannya ditentukan oleh
simbol-simbol, dan ini merupakan asumsi kedua dari teori ini.
Perspektif ini menggaris
bawahi pengguanaan simbol di dalam organisasi. Simbol merupakan representasi
untuk makna. Angota-angota . organisasi menciptakan,
menggunakan, danmengintrepetasikan
simbol setiap hari. Simbol-simbol ini sangat penting bagi budaya
perusahaan. Simbol-simbol mencakup komunikasi verbal dan nonverbal di
dalam organisasi. Seringkali, simbol-simbol ini mengkomunikasikan
nilai-nilai organisasi. Simbol dapat berupa slogan yang memiliki makna.
Sejauh mana simbol-simbol ini efektif bergantung tidak hanya pada media
tetapi bagaimana karyawan perusahaan mempraktikannya.
3. Budaya bervariasi dalam organisasi-organisasi yang
berbeda, dan interpretasi tindakan dalam budaya ini juga beragam
Asumsi
yang ketiga mengenai teori budaya organisasi berkaitan dengan keberagaman
budaya organisasi. Sederhana, budaya organisasi sangat
bervariasi. Persepsi mengenai tindakan dan aktivitas di dalam
budaya-budaya ini juga seberagam budaya itu sendiri.
C. Dimensi Budaya Organisasi
Terdapat banyak dimensi yang membedakan budaya. Dimensi inimempengaruhi
perilaku yang dapat mengakibatkan kekeliruan pemahaman, ketidakepakatan,
atau bahkan konflik. Konsep budaya pada awalnya berasal dari lapangan
antropologi dan mendapat tempat pada awal perkembangan ilmu perilaku
organisasi. Dimensi-dimensi yang digunakan untuk membedakan budaya.
Organisasi, menurut Robbins (1996)
ada tujuh karakteristik primer yang secara bersama-sama menangkap hakikat
budaya organisasi, yaitu:
- Inovasi dan pengambilan resiko.
- Perhatian ke hal yang rinci.
- Orientasi hasil.
- Orientasi Orang.
- Orientasi Tim.
- Keagresifan.
- Kemantapan.
Luthan (1998) menyebutkan sejumlah karakteristik yang penting dari budaya
organisasi, yang meliputi:
- Aturan-aturan perilaku Yaitu
bahasa, terminologi, dan ritual yang biasa dipergunakan oleh anggota
organisasi.
- Norma Adalah standar
perilaku yang menjadi petunjuk bagaimana melakukan sesuatu. Lebih
jauh di masyarakat kita kenal adanya norma agama, norma susila, norma
sosial, norma adat, dll.
- Nilai-nilai
dominan Adalah nilai utama yang diharapkan dari organisasi untuk
dikerjakan oleh para anggota, misalnya tingginya kualitas produk,
rendahnya tingkat absensi, tingginya produktivitas dan efisiensi,
serta tingginya disiplin kerja.
- Filosofi Adalah kebijakan
yang dipercaya organisasi tentang hal-hal yang disukai para karyawan
dan pelanggannya, seperti “Kepuasan Anda adalah harapan Kami”.
- Peraturan-peraturan Adalah
aturan yang tegas dari organisasi. Pegawai baru harus
mempelajari peraturan ini agar keberadaannya dapat diterima dalam
organisasi.
- Iklim Organisasi Adalah
keseluruhan “perasaan” yang meliputi hal-hal fisik, bagaimana para
anggota berinteraksi dan bagaimana para anggota organisasi mengendalikan
diri dalam berhubungan dengan pelanggan atau pihak luar organisasi.
Hofsede (dalam Gibson, 1996)
mengemukakan empat dimensi budaya, yaitu:
- Penghindaran atas
ketidakpastian
Adalah tingkat dimana anggota masyarakat merasa tidak
nyaman dengan ketidakpastian dan ambiguitas. Perasaan ini mengarahkan
mereka untuk mempercayai kepastian yang menjanjikan dan untuk memelihara
lembaga- lembaga yang melindungi penyesuaian.
- Maskulin vs feminim
Tingkat maskulinitas adalah kecenderungan dalam
masyarakat akan prestasi, kepahlawanan, ketegasan, dan keberhasilan
materiil. Feminitas berarti kecenderungan akan kesederhanaan, perhatian
pada yang lemah, dan kualitas hidup.
- Individu
vs kebersamaan
Individualisme
adalah kecenderungan dalam kerangka sosial dimana individu dianjurkan
untuk menjaga diri sendiri dan keluarganya. Kolektivisme berarti
kecenderungan dimana individu dapat mengharapkan kerabat, suku,
atau kelompok lainnya melindungi mereka sebagai ganti atas loyalitas
mutlak yang mereka berikan.
- Jarak
kekuasaan
Adalah
ukuran dimana anggota suatu masyarakat menerima bahwa kekuasaan dalam lembaga
atau organisasi tidak didistribusikan secara merata. Selanjutnya budaya
organisasi dapat ditemukan dalam tiga tingkatan, yaitu:
a. Artefak
Pada
tingkat ini budaya bersifat kasat mata tetapi seringkali tidak
dapat diartikan, misalnya lingkungan fisik organisasi, teknologi, dan cara
berpakaian. Analisis pada tingkat ini cukup rumit karena mudah diperoleh tetapi
sulit ditafsirkan.
b. Nilai
Nilai memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi
daripada artefak. Nilai ini sulit diamati secara langsung sehingga untuk
menyimpulkannya seringkali diperlukan wawancara dengan anggota organisasi yang
mempunyai posisi kunci atau dengan menganalisis kandungan artefak seperti
dokumen.
c. Asumsi dasar
Merupakan bagian penting dari budaya organisasi. Pada
tingkat ini budaya diterima begitu saja, tidak kasat mata dan tidak
disadari. Asumsi ini merupakan reaksi yang bermula dqari nilai-nilai yang
didukung. Bila asumsi telah diterima maka kesadaran akan menjadi tersisih.
Dengan kata lain perbedaan antara asumsidengan nilai artefak terletak pada
apakah nilai-nilai tersebut masih diperdebatkan dan diterima apa adanya
atau tidak.
Tahap-tahap pembentukan atau
pembangunan budaya organisasi dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
- Seorang (biasanya pendiri)
datang dengan ide atau gagasan tentang sebuah usaha baru.
- Pendiri membawa orang-orang
kunci yang merupakan para pemikir, dan menciptakan kelompok inti yang
mempunyai visi yang sama dengan pendiri.
- Kelompok inti memulai
serangkaian tindakan untuk menciptakanorganisasi, mengumpulkan dana,
menentukan jenis dan tempat usaha dan lain-lain yang relevan.
- Orang-orang lain dibawa ke
dalam organisasi untuk berkarya bersama-sama dengan pendiri dan kelompok
inti, memulai sebuah sejarah bersama. Penghayatan akan nilai-nilai kerja
atau hal lain yang penting.
- Ceritera-ceritera dan
faktor-faktor organisasi yang menumbuhkan semangat dan kebanggan.
- Pengakuan dan promosi bagi
karyawan yang berprestasi.
D. MANFAAT DAN PERANAN BUDAYA PERUSAHAAN
1. Manfaat
Budaya Perusahaan
AB. Susanto (2002), mengemukakan
manfaat yang diperoleh apabila budaya perusahaan itu dipahami dan dapat dilihat
dari dua sisi, yaitu:
a. Bagi
Sumber Daya Manusia :
· Memberikan
arah atau pedoman berperilaku di dalam perusahaan. Dalam hal ini sumber daya
manusia tidak dapat semena-mena bertindak atau berperilaku sekehendak hati,
melainkan harus menyesuaikan diri dengan siapa dan dimana dia berada.
· Mempunyai
kesamaan langkah dan visi di dalam melakukan tugas dan tanggungjawab, masing-masing
individu dapat meningkatkan fungsinya dan mengembangkan tingkat interpedensi
antar individu atau bagian yang saling melengkapi dalam kegiatan usaha
perusahaan.
· Mendorong
sumber daya manusia mencapai prestasi kerja atau produktivitas yang baik. Hal
ini dapat dicapai apabila proses sosialisasi dapat dilakukan dengan tepat
sasaran.
· Memiliki
atau mengetahui secara pasti tentang karirnya di perusahaan sehingga mendorong
mereka untuk konsisten dan tanggung jawab.
b. Bagi
Perusahaan :
· Sebagai
pedoman di dalam menentukan kebijakan yang berkenaan dengan ruang lingkup
kegiatan intern perusahaan seperti tata tertib, administrasi, hubungan antar
bagian, penghargaan prestasi sumber daya manusia, penilaian kinerja, dan
lain-lain.
· Sebagai
acuan dalam menyusun perencanaan perusahaan (corporate planning) yang meliputi
pembentukan marketing plan, penentuan segmen pasar yang akan dikuasai,
penentuan penempatan perusahaan yang akan dikuasai.
· Dapat
membuat program-program pengembangan usaha dan pengembangan sumber daya manusia
dengan dukungan penuh dari seluruh jajaran sumber daya manusia yang ada.
2. Peranan
Budaya Perusahaan
Dalam
hidupnya, manusia dipengaruhi oleh budaya dimana dia berada, seperti nilai-nilai,
keyakinan dan perilaku sosial/masyarakat yang kemudian menghasilkan budaya
sosial atau budaya masyarakat. Hal yang sama juga akan terjadi bagi para
anggota organisasi. Hal yang sama juga akan terjadi bagi para anggota
organisasi dengan segala nilai, keyakinan,dan perilakunya dalam organisasi yang
kemudian menciptakan budaya organisasi.
Wheelen
dan Hunger (1986) secara spesifik mengemukakan sejumlah perananan penting
yang dimainkan oleh budaya organisasi, yaitu :
a. Membantu
menciptakan rasa memilki jati diri bagi pekerja
b. Dapat
dipakai untuk mengembangkan keikatan pribadi dengan organisasi
c. Membantu
stabilisasi organisasi sebagai suatu sistem sosial
d. Menyajikan
pedoman perilaku, sebagai hasil dari norma-norma perilaku yang sudah terbetuk.
E. Cara Karyawan Mempelajari Budaya Perusahaan
Proses transformasi budaya oleh
karyawan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
- Cerita
Cerita mengenai bagaimana kerasnya
perjuangan pendiri organisasi di dalam memulai usaha sehingga kemudian
menjadi maju seperti sekarang merupakan hal yang baik untuk
disebarluaskan. Bagaimana sejarah pasang-surut perusahaan dan bagaimana
perusahaan mengatasi kemelut dalam situasi tak menentu merupakan kisah
yang dapat menodorong dan memotivasi karyawan untuk bekerja keras jika mereka
mau memahaminya.
2. Ritual / Upacara-upacara
Semua masyarakat memiliki corak ritual
sendiri-sendiri. Di dalam perusahaan, tidak jarang ditemui acara-acara
ritual yang sudah mengakar dan menjadi bagian hidup perusahaan. Sehingga
tetap dipelihara keberadaannya, contohnya adalah selamatan mulai musim
giling di pabrik gula.
3. Simbol-simbol material
Simbol-simbol atau lambang-lambang material seperti
pakaian seragam, ruang kantor dan lain-lain, atribut fisik yang dapat
diamati merupakan unsur penting budaya organisasi yang harus diperhatikan
sebab dengan simbol-simbol itulah dapat dengan cepat diidentifikasi
bagaimana nilai, keyakinan, norma, danberbagai hal lain itu menjadi milik
bersama dan dipatuhi anggota organisasi.
4.
Bahasa
Bahasa merupakan salah satu media terpenting di
dalammentransformasikan nilai. Dalam suatu organisasi atau perusahaan, tiap
bidang, divisi, strata atau semacamnya memiliki bahasa atau jargon yang
khas, yang kadang-kadang hanya dipahami oleh kalangan itu sendiri. Hal ini
penting karena untuk dapat diterima di suatu lingkungan dan menjadi bagian
dari lingkungan, salah satu syaratnya adalah memahami bahasa yang berlaku
di lingkungan itu. Dengan demikian menjadi jelas bahwa bahasa merupakan unsur
penting dalam budaya perusahaan.
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian-uraian di atas, pada bab ini dapat dikemukakan beberapa
pokok kesimpulan sebagai berikut:
1. Budaya perusahaan tidak muncul dengan
sendirinya di kalangan anggota organisasi, tetapi perlu dibentuk dan
dipelajari karena pada dasarnya budaya perusahaan adalah sekumpulan nilai
dan pola perilaku yang dipelajari, dimiliki bersama, oleh semua anggota
organisasi dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
2. Budaya perusahaan sangat penting peranannya
dalam mendukungterciptanya suatu organisasi atau perusahaan yang efektif.
Secara lebih spesifik, budaya perusahaan dapat berperan dalam menciptakan
jati diri, mengembangkan keikutsertaan pribadi dengan perusahaan dan
menyajikan pedoman perilaku kerja bagi karyawan.
Selasa, 04 April 2017
Kasus Pelanggaran Etika Bisnis yang dilakukan PT Freeport Indonesia
Ada pernyataan
kuat bahwa telah terjadi distori etika dan pelanggaran kemanusiaan yang hebat
di Papua. Martabat manusia yang seharusnya dijunjung tinggi, peradaban dan
kebudayaan sampai mata rantai penghidupan jelas dilanggar. Itu adalah fakta
keteledoran pemerintah yang sangat berat karena selama ini bersikap
underestimate kepada rakyat Papua. Gagasan yang menyatakan mendapatkan
kesejahteraan dengan intensifikasi nyatanya gagal.
Ironisnya, dua kali pekerja
Freeport melakukan aksi mogok kerja sejak Juli untuk menuntut hak normatifnya
soal diskriminasi gaji, namun dua kali pula harus beradu otot. Keuntungan
ekonomi yang dibayangkan tidak seperti yang dijanjikan, sebaliknya kondisi
lingkungan dan masyarakat di sekitar lokasi pertambangan terus memburuk dan menuai
protes akibat berbagai pelanggaran hukum dan HAM.
Analisis Permasalahan
PT Freeport
Indonesia merupakan jenis perusahaan multinasional (MNC), yaitu perusahaan
internasional atau transnasional yang berpusat di satu negara tetapi cabang ada
di berbagai negara maju dan berkembang. Mogoknya hampir seluruh pekerja PT
Freeport Indonesia disebabkan karena perbedaan indeks standar gaji yang
diterapkan oleh manajemen pada operasional Freeport diseluruh dunia. Pekerja
Freeport di Indonesia diketahui mendapatkan gaji lebih rendah dari pada pekerja
Freeport di negara lain untuk level jabatan yang sama. Gaji sekarang perjam USD
1.5-USD 3. Padahal, dibandingkan gaji di negara lain mencapai USD 15-USD 35
perjam. Sejauh ini, perundingannya masih menemui jalan buntu. Manajemen
Freeport bersikeras menolak tuntutan pekerja, entah apa dasar pertimbangannya.
Biaya CSR kepada
sedikit rakyat Papua digembor-gemborkan itu pun tidak seberapa karena tidak
mencapai 1 persen keuntungan bersih PT FI. Malah rakyat Papua membayar lebih
mahal karena harus menanggung akibat berupa kerusakan alam serta punahnya
habitat Papua yang tidak ternilai itu. Biaya reklamasi tersebut tidak akan bisa
dditanggung generasi Papua sampai tujuh turunan.
Umumnya
korporasi berasal dari AS, pekerja adalah bagian dari aset perusahaan. Menjaga
hubungan baik dengan pekerja adalah suatu keharusan. Sebab, di situlah terjadi
hubungan mutualisme satu dengan yang lain. Perusahaan membutuhkan dedikasi dan
loyalitas agar produksi semakin baik, sementara pekerja membutuhkan komitmen
manajemen dalam hal pemberian gaji yang layak. Pemerintah dalam hal ini pantas
malu. Sebab, hadirnya MNC di Indonesia terbukti tidak memberikan teladan untuk
menghindari perselisihan soal normatif yang sangat mendasar. Kebijakan dengan
memberikan diskresi luar biasa kepada PT FI, privilege berlebihan, ternyata
hanya sia-sia.
Penyelesaian Masalah yang dilakukan PT Freeport Indonesia
Juru bicara PT
Freeport Indonesia, Ramdani sirait, mengatakan bahwa manajemen perusahaan PTFI
akan berkomunikasi dengan Serikat Pekerja Seluruh indonesia (SPSI) demi
mengantisipasi ancaman aksi mogok yang dilakukan pekerja. Karena isu aksi mogok
tersebut terkait rencana pemutusan hubungan kerja terhadap tiga orang karyawan
PTFI yang melakukan intimidasi fisik kepada karyawan lainnya. Ia menyebutkan,
terhadap intimidasi fisik yang memenuhi ketentuan PHI (Pedoman Hubungan
Industrial) Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sebagaimana kasus tiga karyawan yang
melakukan intimidasi fisik, diproses berdasarkan ketentuan PHI-PKB. Pasal-pasal
yang tercantum dalam PKB tersebut sudah mengakomodasi aspirasi pekerja. Salah
satunya adalah adanya kenaikan upah pokok sebesar 40 persen dalam 2
tahun." Angka ini jauh di atas ketentuan rata-rata kenaikan upah pokok
nasional sebesar 10-11 persen per tahun," sambung dia.
Sebagai upaya
mencegah hal-hal yang tidak diinginkan pada perusahaan, perusahaan sudah
membentuk Crisis Management Committee. Yaitu guna menciptakan lingkungan kerja
yang damai dan harmonis, PTFI dan pimpinan SPSI PTFI pun telah membentuk Crisis
Management Committee.
Undang-undang yang telah di Langgar
PT Freeport
Indonesia telah melanggar hak-hak dari buruh Indonesia (HAM) berdasarkan UU No.
13/2003 tentang mogok kerja sah dilakukan. PT Freeport Indonesia telah
melanggar pasal :
- Pasal 139: “Pelaksanaan mogok
kerja bagi pekerja/buruh yang bekerja pada perusahaan yang melayani kepentingan
umum dan atau perusahaan yang jenis kegiatannya membahayakan keselamatan jiwa
manusia diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kepentingan umum dan
atau membahayakan keselamatan orang lain”.
- Pasal 140: (1)
“Sekurang-kurangnya dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja sebelum mogok kerja
dilaksanakan, pekerja/buruh dan serikat pekerja/serikat buruh wajib
memberitahukan secara tertulis kepada pengusaha dan instansi yang bertanggung
jawab di bidang ketenagakerjaan setempat”. (2) Pemberitahuan sebagaimana
dimaksud dalam ayat 1 (satu) sekurang-kurangnya memuat: (i) Waktu (hari, tanggal,
dan jam) dimulai dan diakhiri mogok kerja. (ii) Tempat mogok kerja. (iii)
Alasan dan sebab-sebab mengapa harus melakukan mogok kerja. (iv) Tanda tangan
ketua dan sekretaris dan/atau masing-masing ketua dan sekretaris serikat
pekerja/serikat buruh sebagai penanggung jawab mogok kerja. (3) Dalam hal mogok
kerja akan dilakukan oleh pekerja/buruh yang tidak menjadi anggota serikat
pekerja/serikat buruh, maka pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
ditandatangani oleh perwakilan pekerja/buruh yang ditunjuk sebagai koordinator
dan/atau penanggung jawab mogok kerja. (4) Dalam hal mogok kerja dilakukan
tidak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka demi menyelamat kan alat
produksi dan aset perusahaan, pengusaha dapat mengambil tindakan sementara
dengan cara: (i) Melarang para pekerja/buruh yang mogok kerja berada dilokasi
kegiatan proses produksi, atau (ii) Bila dianggap perlu melarang pekerja/buruh
yang mogok kerja berada di lokasi perusahaan.
- Pasal 22: “Setiap orang berhak
atas pekerjaan, berhak dengan bebas memilih pekerjaan, berhak akan
terlaksananya hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya yang sangat doperlukan untuk
martabat dan pertumbuhan bebas pribadinya, melalui usaha-usaha nasional maupun
kerjasama internasional, dan sesuai dengan pengaturan sumber daya setiap
negara”.
PT Freeport Indonesia melanggar
UU No. 11/1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan yang sudah diubah
dengan UU No. 4/2009.
Selain bertentangan dengan PP
76/2008 tentang Kewajiban Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan, telah terjadi bukti
paradoksal sikap Freeport.
Kestabilan siklus operasional
Freeport, diakui atau tidak, adalah barometer penting kestabilan politik koloni
Papua. Induksi ekonomi yang terjadi dari berputarnya mesin anak korporasi
raksasa Freeport-McMoran tersebut di kawasan Papua memiliki magnitude luar
biasa terhadap pergerakan ekonomi kawasan, nasional, bahkan global.
Kesimpulan :
Dari pembahasan
diatas, dapat disimpulkan bahwa PT Freeport Indonesia telah melanggar etika
bisnis dan melanggar undang-undang. Hak didasarkan atas martabat manusia dan
martabat semua manusia itu sama. Karena hak sangat cocok dengan suasana
pemikiran demokratis. PT Freeport Indonesia sangat tidak etis dimana kewajiban terhadap
para karyawan tidak terpenuhi karena gaji yang diterima tidak layak
dibandingkan dengan pekerja Freeport di Negara lain. Padahal PT Freeport
Indonesia merupakan tambang emas dengan kualitas emas terbaik di dunia.
Saran
Sebaiknya
pemerintah Indonesia cepat menanggapi masalah ini dan cepat menanggulangi
permasalahan PT Freeport Indonesia. Karena begitu banyak SDA yang ada di Papua,
tetapi masyarakat Papua khususnya dan Negara Indonesia tidak menikmati hasil
dari kekayaan alam di Papua. Jangan sampai Amerika mendapatkan semakin banyak
untung dari kekayaan yang dimiliki oleh Negara kita sendiri.
Sumber:
http://megapitriani06.blogspot.com/2013/10/contoh-perusahaan-yang-melanggar-etika.html
Langganan:
Postingan (Atom)

